Prof. Ai Fatimah: Era AI Membutuhkan Ulama Otoritatif dan Berintegritas

YOGYAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kehadiran orang-orang dengan otoritas keilmuan dan integritas menjadi semakin penting.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Ai Fatimah Nur Fuad, Lc., M.A., M.Si., Ph.D. dalam Studium Generale Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Gedoeng Muhammadijah, Jalan K.H.A. Dahlan Nomor 103, Yogyakarta, Sabtu (29 Rabiulakhir 1448 H/10 Oktober 2026 M).

“Di tengah dampak globalisasi, AI, dan kemajuan digital, sangat dibutuhkan orang-orang yang otoritatif di bidang keagamaan,” kata Ai Fatimah di hadapan thalabah semester VII PUTM.

Menurutnya, kemudahan akses terhadap informasi belum tentu diikuti ketepatan sumber dan kedalaman pemahaman. Karena itu, thalabah sebagai calon ulama perlu membangun kapasitas akademik sekaligus menjaga integritas diri.

“Jadilah pribadi yang otoritatif dan berintegritas,” pesannya.

Ai Fatimah juga mengajak thalabah menjadi pembelajar organik. Mereka tidak cukup hanya menerima pengetahuan di ruang kelas, tetapi perlu terus bertumbuh, membaca perubahan, dan mengembangkan keilmuan sesuai kebutuhan umat.

Prof. Ai Fatimah bersama thalabah semester VII PUTM

Selain mempunyai kecakapan akademik, thalabah PUTM diharapkan mampu menjaga dan meneruskan nilai-nilai Persyarikatan. Hal itu terangkum dalam pesannya, “Jadilah ‘inang’ untuk ideologi Muhammadiyah.”

Dalam konteks tersebut, “inang” merujuk pada pribadi yang menjadi tempat nilai-nilai Muhammadiyah hidup, berkembang, dan diteruskan melalui kerja keilmuan serta pengabdian di tengah masyarakat.

Studium Generale juga membahas persiapan studi lanjut, baik di dalam maupun luar negeri. Berbekal pengalamannya sebagai reviewer program beasiswa ke berbagai negara, Ai Fatimah menjelaskan bahwa calon penerima beasiswa perlu mempunyai kesiapan yang utuh.

Kesiapan pertama adalah pemahaman tentang negara tujuan. Pelamar harus mampu menyampaikan alasan rasional dan akademik dalam memilih negara sekaligus menunjukkan kesiapan mental menghadapi lingkungan baru.

Kesiapan berikutnya berkaitan dengan kemampuan menjalani proses pendidikan. Perbedaan sistem akademik di setiap negara menuntut mahasiswa untuk beradaptasi agar mampu menyelesaikan studi dengan baik.

Calon penerima beasiswa juga perlu merancang kontribusi setelah studi. Ai Fatimah menekankan pentingnya menjelaskan manfaat ilmu yang diperoleh dan arah pengabdian yang akan dilakukan setelah menyelesaikan pendidikan.

Selama satu setengah jam, kegiatan berlangsung dalam suasana hangat. Pemaparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberi kesempatan kepada thalabah untuk mendalami tantangan studi lanjut, persiapan beasiswa, dan tanggung jawab keilmuan seorang calon ulama.

Melalui Studium Generale ini, thalabah semester VII mendapat gambaran bahwa studi lanjut bukan hanya tentang memperoleh gelar. Pendidikan lanjutan merupakan bagian dari proses membangun otoritas keilmuan, menjaga integritas, dan mempersiapkan pengabdian bagi umat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *